Memilih Istri Dengan Baik

•Oktober 27, 2008 • 3 Komentar

Allah SWT berfirman:

                       “Dan, kawinkanlah orang-orang yang sendiriian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan me-mampukan mereka dengan karunianya. Dan, Allah Maha-Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur: 32)

 

 

            Sepatutnya orang yang hendak membentuk rumah tangga itu memilih istri yang saleh, yang sesuai dengan kriteria berikut:

 

1.   Seperti yang disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW.,

              Wanita itu biasanya dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena keagamaannya. Maka, utamakanlah keadaan keagamaannya niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaq’alaih)

 

 

2.   Seperti yang disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW.,

              Dunia ini seluruhnya adalah kesenangan. Tetapi, sebaik-baik kesenangan di dunia adalah istri yang saleh.” (HR. Muslim)

 

 

3.   Seperti yang disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW.,

              Hendaknya kalian memiliki hati yang selalu bersyukur, lidah yang selalu berdzikir, dan istri mukminah yang menolongnya melakukan urusan akhirat.”

 

      Seperti yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.,

              Dan, istri yang saleh yang membantumu dalam urusan duniamu dan akhiratmu. Ia adalah sebaik-baik perbendaharaan bagi manusia.”(HR. Al-Baihaqi)

 

 

4.   Seperti yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.,

              Nikahilah wanita yang penyayang dan peranak, sebab aku akan membanggakan kalian di hadapan para nabi kelak di hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad)

 

 

5    Seperti dinyatakan dalam hadits Rasulullah SAW.,

              Hendaknya kalian menikahi wanita yang perawan sebab mereka itu adalah lebih kuat kandungannya dan lebih sedap mulutnya dan lebih rela menerima yang sedikit. (Di dalam riwayat lain dinyatakan,’Lebih sedikit tipuannya.’)” (HR. Ibnu Majah)

 

  

               Jika wanita saleha merupakan salah satu dari empat perkara yang mendatangkan kebahagiaan maka wanita yang buruk (jahat) adalah satu dari empat perkara yang mendatangkan penderitaan, seperti yang disebutkan dalam hadits sahih,

 

              Di antara yang mendatangkan kebahagiaan itu ialah perempuan yang saleh yang jika kamu melihatnya maka akan membuatmu terheran-heran, dan jika kamu meninggalkannya bepergian maka dia akan menjamin keamanannya pada dirinya dan hartamu. Dan, antara yang mendatangkan penderitaan ialah wanita yang jika kamu melihatnya akan bersikap buruk padamu dan melontarkan kata-kata yang kasar kepadamu dan jika kamu meninggalkannya pergi maka kamu tidak  akan merasa aman pada dirinya dan hartamu.” (HR. Ibnu Hibban dan lainnya)

 

 

              Demikian pula sebaliknya, haruslah melihat secara teliti kepada lelaki yang datang meminang seorang wanita muslimah, dan untuk menyetujuinya perlu diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut.

             

              “Jika datang kepadamu orang yang engkau sukai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia dengan (anak gadismu). Jika kalian tidak melakukannya maka  akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi serta kebobokan yang meluas.” (HR. Ibnu Majah)

 

 

              Tetapi dalam semua itu, haruslah diajukan pertanyaan dengan baik dan menyelidiki secara teliiti serta menghimpun berbagai informasi dan mencari kepastian engan sumber-sumber informasi dan berita-berita, agar tidak merusak rumah tangga dan tidak menjadi hancur.

 

 

              Seorang lelaki yang saleh yang menikah dengan wanita yang saleh akan membangun rumah tangga yang saleh pula. Sebab, suatu tanah yang baik pula dengan izin Allah SWT, sedangkan tanah yang buruk tidak akan menghasilkan, selain tumbuhan yang tidak subur.

 

NAFKAHILAH DENGAN REZEKI YANG HALAL

•Oktober 26, 2008 • 1 Komentar

Keinginan menyejahterakan keluarga, seringkali menggiring seseorang bapak tidak peduli lagi dengan cara mencari rezeki. Ada di antara mereka yang sudah tidak mau tahu dengan batas halal dan haram. Prinsip yang mereka anut umumnbya: yang penting dapat uang dan sekeluarga bisa senang-senang. Naudzubillah

 

            Padahal islam mewajibkan setiap pemeluknya untuk mencari harta yang halal saja. Anas  ra. menceritakan, Muhammad Rasulullah SAW. Bersabda, “ Mencari yang halal itu adalah kewajiban bagi setiap orang muslim”. (HR. Thobroni). Dengan demikian apabila kita mencari yang haram, maka terhitung dosa.

 

            Selain berdosa, rezeki yanbg haram mengakibatkan doa kita tertolak.

 

            Abu Huroiroh ra. berkata, Muhammad Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan hanbya mau menerima yang baik. Dan sesungguhnya Allah menyuruh orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan kepada Rasul sebagaimana firman-Nya: ‘Wahai para Rasul, makanlah yang baik-baik dan beramal shalehlah, sesungguhnya apa saja yang kamu lakukan, Aku Maha Mengetahui’. Dan firman-Nya: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rezekikan kepadamu’.

 

            Kemudian Rasulullah SAW. menceritakan tentang seorang lelaki yang menempuh perjalanan panjang. Rambutnya kusut penuh debu dan tangannya menengadah ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, namun pakaiannya haram, minumannya haram, dan semua yang dimasukkan ke dalam perutnya haram, maka bagaimana ia dapat dikabulkan dalam keadaan seperti itu?” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

 

            Hadits di atas menegaskan, bahwa Allah SWT memerintahkan para nabi dan segenap umatnya untuk mencari harta secara halal manusia akan berhati baik, dan amal serta doanya diterima oleh Allah SWT. Sebaliknya  jika seseorang memakan harta haram, ia akan jauh dari rahmat Allah SWT. Dan doanya juga akan ditolak oleh-Nya.

 

            Lebih dari itu harta haram yang dinafkahkan kepada keluarga hanya akan menuntun mereka berbuat maksiat dan durhaka. Ibnu Umar ra. mengabarkan, Muhammad Rasulullah SAW. bersabda, “Dunia itu manis lagi hijau. Barangsiapa yang memperoleh harta dari usahanya secara halal lalu membelanjakannya sesuai hak-haknya, niscaya Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan Dia akan memasukkannya ke dalam surga. Dan barangsiapa mendapat harta dari usahanya yang haram lalu ia membelanjakannya bukan pada hak-haknya, niscaya Allah akan menjerumuskannya ke tempat kehinaan (neraka)*). Dan banyak orang yang menangani harta Allah dan Rasul-Nya kelak pada hari kiamat mendapat siksa neraka”. (HR. Baihaqi)

 

            Maksudnya, harta yang didapat secara haram hanya akan menuntun orang yang bersangkutan melakukan maksiat secara terus-menerus atau mendurhakai Allah SWT. Dan perbuatan-perbuatan itulah yang akan menjerumuskannya ke neraka. Saat ini sudah banyak orang-orang yang menangani pengumpulan harta umat Islam. Niatnya semula untuk pembangunan sekolah, rumah sakit, dan kepentingan umat lainnya. Namun karena tidak mampu menahan nafsunya, mereka akhirnya memakan harta tersebut secara zalim. Mereka juga kelak mendapat siksa neraka.

 

 

KATA-KATA BIJAK

•Oktober 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Suami yang menikahimu

tidaklah semulia Nabi Muhammad SAW,

tidaklah setabah Nabi Ibrahim AS,

pun tidaklah setabah Nabi Ayub AS,

suamimu hanyalah pria akhir zaman

yang punya cita-cita membangun

keturunan yang shaleh. Pernikahan

mengajarkan kita kewajiban bersama.

Suami adalah nahkoda kapal,

kamu navigatornya. Suami menjadi rumah, kamu penghuninya

suami sebagai guru, kamu muridnya.

Seandainya suami lupa…..

Bersabarlah kamu memperingatinya.

Istri yang kamu nikahi

Tidaklah semulia Khadijah R. A

Tidaklah setaqwa Aisyah R. A

Pun tidaklah setabah Fatimah R. A

Istrimu hanyalah wanita akhir zaman

Yang punya cita-cita menjadi istri yang shaleh.

Pernikahan mengajarkan kita kewajiban bersama.

Istri menjadi tanah, kamu penaungnya,

Istri bagaikan tanaman, kamu pemagarnya,

Istri bagaikan anak kecil,

Kamu tempat bermanjanya,

Seandainya istrimu tulang yang bengkok…..

Berhati-hatilah meluruskannya.

 

 

Etika Kepada Allah SWT

•Oktober 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Etika Kepada Allah SWT

 

 

 

 

 

Etika kepada Allah SWT bisa berlangsung dengan tiga hal :

 

Pertama, menjaga pikiran kita. Caranya, anda tidak menyandangkan kekurangan apapun pada Allah SWT. Sebab, sikap demikian tidak menunjukkan etika pada Allah SWT.

Kedua, menjaga hati kita. Caranya, anda tidak membiarkan hati kita menoleh pada selain Allah SWT. Cara yang lain adalah menjadikan hati kita dipenuhi cinta Allah SWT. Bukanlah beretika pada Allah SWT, bila Shalat, hati kita justru memikirkan yang selain-Nya.

Ketiga, menjaga tingkah laku kita. Kita tidak melakukan segala sesuatu yang membuat Allah SWT murka. Janganlah kita memandang seorang wanita yang bukan pasangan kita. Kita tidak usah bergaul dengan gadis lain yang juga bukan pasangan sah kita. Kita juga tidak boleh meninggalkan Shalat. Sebab, siapapun melakukan hal itu, ia tidak bisa disebut memiliki etika pada Allah SWT.

Para Ulama mengatakan, “Seseorang yang memiliki etika tiga hal ini pikirannya selalu dipergunakan untuk menyucikan Allah, dan seluruh tingkah lakunya diridai Allah termasuk orang yang dicintai Allah,”

Amiin…..

 

 

By Amru Muhammad Khalid

Orang Yang Punya Kelebihan

•Oktober 20, 2008 • 1 Komentar

Orang Yang Punya Kelebihan

Wajib Berinfak

 

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah SWT melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah SWT) bagi kaum yang beriman.

Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknbya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan*). Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah SWT; dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 30/Ar Rum: 37-38).

 

Keterangan:

*          Orang yang sedang mengalami kesengsaraan.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.